Menjadi Murid Kristus

MENJADI MURID KRISTUS

Murid Kristus? Mungkin kata-kata ini agak terasa berat bagi orang-orang awam. Banyak orang berpikir bahwa menjadi murid Kristus itu harus mengemban tanggung jawab yang besar dan berkomitmen dalam diri pribadi, dan merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Padahal, sebenarnya anggapan ini salah. Tuhan memilih kita untuk menjadi murid-murid-Nya adalah sesuai dengan kemampuan kita.

Bila kita melihat kehidupan murid-murid Yesus yang pertama, umumnya adalah nelayan (penjala ikan). Lalu Tuhan Yesus menghendaki mereka menjadi penjala manusia. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Yesus memberikan tanggung jawab sesuai dengan apa yang mereka mampu lakukan, begitu juga dengan kita. Dan hal penting yang harus kita perhatikan di sini adalah Yesus sendirilah yang memilih kita untuk menjadi murid-murid-Nya. Namun, kita juga punya pilihan tanpa paksaan. Sehingga semuanya itu tetap bergantung pada kita apakah mau menjadi murid-Nya atau tidak.

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali orang terlalu disibukkan dengan pekerjaan atau kegiatan duniawinya dan melupakan Tuhan dalam kehidupannya. Mereka terlalu sering untuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya. Padahal, ketika kita mengikut Yesus dan menjadi murid-Nya, kita tidak akan pernah merasa kekurangan, karena kita selalu mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita.

Saat menjadi murid Kristus, kita juga harus meninggalkan orangtua dan teman-teman. Tapi arti “meninggalkan” di sini bukanlah tidak memedulikan sama sekali orangtua atau teman-teman. Tapi hal ini lebih menjurus pada arti cinta kita yang melebihi cinta kepada orangtua dan teman-teman. Dan kita juga harus menyangkal diri (Markus 8:34), yakni kita harus meninggalkan hal-hal duniawi dan menganggap hanya Yesuslah yang benar. Kita harus menanggalkan manusia lama dan hanya tertuju pada Yesus.

Dalam kitab Injil (Markus 1:16-20) terlihat jelas bahwa Yesus sendirilah yang memilih murid-murid-Nya. Dan para murid-Nya pun dengan seketika menerima tawaran Yesus tersebut. Mungkin banyak orang berpikiran mengapa mereka menerima tawaran Yesus, sementara mereka belum mengenal Yesus terlalu dalam. Mengapa mereka rela meninggalkan pekerjaan mereka yang merupakan sumber nafkah mereka dan memilih mengikuti Yesus?

Ini berkaitan dengan tradisi Yahudi jaman dahulu. Kehidupan umat Yahudi jaman dahulu sangat relijius. Banyak orangtua (baik dari golongan bawah hingga golongan atas) mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar tentang hal-hal kerohanian dan belajar memahami Taurat. Kebanyakan orang Yahudi bercita-cita menjadi seorang Rabi atau Ahli Taurat, karena pada masa itu kedudukan itu sangat dihormati. Jadi para murid Yesus juga termasuk di antara orang-orang yang ingin belajar itu. Mereka sempat dikirim untuk belajar. Namun, karena keterbatasan ekonomi, mereka kembali lagi kepada keluarga mereka dan menjadi nelayan.

Tapi suatu ketika ada seorang Rabi besar yang namanya sudah terkenal di mana-mana. Dia adalah Yesus yang sudah belajar mengenai Taurat sejak dia kecil, sehingga dia diberi julukan sebagai Rabi besar ketika dia berusia 30 tahun. Yesus memanggil sendiri para murid-Nya tentu merupakan suatu kehormatan bagi para murid Yesus untuk mengikut Yesus. Tanpa pikir panjang lagi, mereka mengikuti Yesus yang pada saat itu adalah salah satu Rabi yang sangat dihormati. Pada masa itu, ketika murid (talmidim) ingin belajar dari rabinya, maka mereka umumnya mengikuti rabi mereka ke manapun rabi itu pergi. Begitu pula dengan para murid Yesus. Mereka mengikuti Yesus setiap hari dan di mana pun Yesus berada.

Tingkatan pembelajaran dimulai dari tingkatan Beth-Sefer pada usia 5 hingga 10 tahun di Sinagoge. Mereka dilatih untuk menghapal 5 kitab Taurat. Lalu, murid-murid dari kalangan menengah ke bawah akan kembali kepada orangtua (kembali ke kehidupan semula). Hanya orang-orang yang mampulah yang akan belajar ke tingkatan selanjutnya, yakni Beth Midrash hingga menguasai interpretasi dan aplikasi Taurat serta seluruh kitab Perjanjian Lama.

Pada tahapan tersebut, talmidim itu sendiri yang akan memilih rabinya dan memohon apakah mereka layak dijadikan talmidim. Jika terpilih, maka mereka akan mengikuti rabi mereka dan hidup bersama rabi. Pada tingkatan terakhir yakni Beth Talmud, ini adalah tingkatan yang sangat mulia dari tingkatan menjadi talmidim. Pada tahapan inilah kelak mereka bisa menjadi rabi.

Yesus baru menjadi seorang Rabi ketika berusia 30-an. Rabi Yesus memiliki keunikan tersendiri, yakni Dia memiliki kuasa dan bisa melakukan mukjizat, hal yang tidak umumnya dimiliki seorang rabi. Ketika itu, Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohannes sudah kembali pada orangtua mereka dan kehidupan semula. Tetapi ketika Yesus memilih mereka, mereka kaget dan sangat kegirangan. Biasanya jika seorang Rabi memilih Talmidim (seperti pada tahapan Beth Midrash) itu adalah tawaran yang sangat mulia di mata orang Yahudi pada masa dulu.

Perbedaan lainnya adalah umumnya seorang rabi berjalan di depan para muridnya, dan para muridnya mengikuti dari belakang. Tapi Yesus sendiri berusaha masuk ke dalam hati para murid-Nya dan para murid-Nya tinggal di dalam Dia (Yoh 15:5 dan Yoh 14:12). Dari ayat tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa kita pun bisa sama seperti Dia, karena kita merupakan bagian dari Tubuh-Nya.

Kita sebagai murid Kristus adalah orang-orang yang seharusnya sudah percaya kepada-Nya. Karakter-karakter murid Kristus terdapat pada Matius 5:1-12.

  1. Miskin di hadapan Allah (5:3), artinya adalah pengakuan dengan rendah hati bahwa kita lemah, berdosa, tak berdaya dan ingin bergantung dan berharap kepada Tuhan secara total.
  2. Berdukacita (5:4), yakni kesedihan yang erat hubungannya dengan kemiskinan rohani. Mereka yang berdukacita bukan saja berhubungan dengan pertobatan dari dosa pribadi, tetapi juga dengan keadaan sekitar.
  3. Lemah lembut (5:5), yakni suatu sikap penguasaan diri, tidak dendam, dan bermotivasi baik terhadap orang lain.
  4. Lapar dan haus akan kebenaran (5:6), memiliki makna hubungan yang benar dengan Allah, sikap dan perbuatan yang berkenan kepada Allah, dan hubungan dengan sesama manusia.
  5. Murah hati (5:7), yakni suatu kemampuan untuk masuk ke dalam situasi (memahami, bersimpati, berempati) lalu melakukan hal-hal kebaikan.
  6. Suci hati (5:8), yakni berarti memiliki hati yang sangat tulus dan tidak munafik. Hal ini bukan saja menunjukkan kepada sesuatu yang bersifat internal, tapi juga eksternal.
  7. Membawa damai (5:9), yakni secara aktif melakukan perdamaian, memulihkan situasi dan kondisi di mana kedamaian sudah retak. Berbeda dengan “pencinta damai” yang hanya pasif.
  8. Dianiaya oleh sebab Kebenaran (5:10), yakni mengalami penganiayaan, penghinaan, ejekan, dan penderitaan. Ini merupakan “harga” yang harus dibayar oleh seorang murid ketika mengikut jejak gurunya.

Lalu bagaimana dengan kehidupan murid Kristus? Ada banyak hal yang terjadi ketika kita memilih untuk menjadi murid Kristus:

  1. Menyangkal diri (Luk 9:23), yakni menolak keinginan daging dan menerima kehendak Allah.
  2. Memikul salib setiap hari (Luk 9:23; 14:27), yakni menanggung penderitaan sebagai murid Kristus.
  3. Meneladani sang Guru (Luk 9:23; 14:27), yakni mengikuti pribadi, kehidupan dan pelayanan Tuhan.
  4. Kasih yang utama (Luk 14:26), yakni lebih mengasihi Tuhan daripada siapa pun. Kata “membenci” lebih menjurus pada arti “mengasihi lebih sedikit”.
  5. Penyerahan diri yang mutlak (Luk 14:33), yakni ketergantungan penuh pada Tuhan Yesus, sebab kita semua adalah telah menjadi milik Kristus secara mutlak.
  6. Saling mengasihi (Yoh 13:34-35), yakni mengasihi orang lain tanpa pamrih.
  7. Tinggal di dalam Firman (Yoh 8:31-32), yakni bersikap menerima keseluruhan ajaran dari Kristus. Karena Firman yang dimaksud adalah Kristus sendiri. Jadi untuk bisa tinggal bersama Kristus, kita harus tinggal di dalam Firman, setia dan taat pada ajaran sang Guru.
  8. Komitmen tanpa syarat (Luk 9:57-62), yakni menjadi murid Kristus adalah hal yang tidak bisa ditawar.
Iklan