Ceritera Anak Negeri

Jalan 1: “KEPUTUSAN”

Sejenak dia tertegun. Dia meresapi apa kata temannya tadi.

Buat apa lagi, Yohan. Sia-sia rasanya kita turun ke jalan, teriak di depan gedung anggota dewan. Tapi, apa mereka dengar? Jangan-jangan mereka pake headset di ruang kerja mereka masing-masing.

Kata-kata itu terkesan pesimis. Tapi, Henrik punya alasan tersendiri mengatakan hal tersebut kepadaku.

Mending gabung sama mereka. Besok aku mau ikut mereka. Katanya mereka sudah mulai dapat donatur buku. Kau jugak kalok punya buku gak kepake, mending kau sumbangkan aja ke mereka,” saran Henrik.

Ntar kupikir-pikir dulu lah, Han. Gak semudah itu aku meninggalkan kawan-kawan organisasi. Kita kan udah bersama mereka selama 4 tahun,” jawabku.

Duh siapa pulak meninggalkan mereka. Kau kan tahu, sebagian anak-anak organisasi juga gabung ke mereka. Aku tau, kau bukan gak tega meninggalkan kawan-kawan, tapi gak ikhlas meninggalkan ideologimu itu. Ah, sudahlah Yohan. Kalok gak mau gabung, gak papa. Kami gak maksa. Yang pasti, kami sekarang lebih milih melakukan hal lain daripada berharap penuh pada pemerintah. Para pejabat pemerintah juga punya anak dan istri, dimana mereka harus menafkahi mereka. Jadi, wajar aja mereka belum tentu bisa menjalankan tugas pemerintahan dengan baik.”

Lama aku tertegun. Mungkin Henrik benar. Mungkin aku terlalu enggan untuk mengubah prinsipku. Memang aku selalu menikmati acap kali aku terjun ke jalan, bawa spanduk, toa, lalu teriak di dekat jalan raya. Tapi ucapan Henrik tadi siang menyadarkanku. Aku tak patut sepenuhnya berharap pada pejabat yang juga manusia biasa.

Segera kugenggam telepon genggamku. Kubuka aplikasi Messengger. Aku menelepon Henrik.

“Iya, bro!” sapa Henrik dari sana. Dia kelihatan tengah berada di gudang atau entah di mana.

“Setelah kupikir-pikir….. Hmm….,” gumamku.

“Biar kutebak. Kau mau gabung sama kita-kita, kan?”

“Eh, kok bisa tau kau?” Aku mengerutkan dahi. Kok bisa dugaan Henrik tepat. 

“Kalimat yang kau pakek terlalu klise muncul di FTV-FTV. Yaudah, kalok kau ada waktu sekarang, jom datang ke sini.”

“Lagi di mana kau? Kok kayak rame di sana?”

“Iya aku lagi di basecamp IYC. Kita lagi prepare buat aksi donasi kita.”

IYC adalah Indonesian Youth for Charity, sebuah LSM yang sering melakukan kegiatan sosial. 

“Iya, tunggu aku ya, wak!” seruku. Aku beranjak dari tempat dudukku. Entah kenapa, aku jadi bersemangat. Hal yang sama pernah kurasakan ketika aku pertama kali dapat beasiswa untuk masuk salah satu perguruan tinggi negeri di kota ini.

[Ini adalah sebuah naskah karangan bebas. Berdasarkan kisah-kisah nyata di sekitar kita. Kritik dan saran pasti saya akan terima]

Iklan
Ditulis dalam Korean. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: