Ceritera Negeri Berasa

Kita memang selalu bermimpi. Kita menginginkan hal ini dan itu. Mungkin kita berharap ada Doraemon di dunia nyata. Tapi apa daya, itu hanyalah figur khayalan komikus Jepang yang telah membius anak-anak hampir di seluruh dunia. 

Waktu semakin berlalu. Mungkin generasi masa kini sudah semakin jarang menikmati animasi jepang (baca: anime) yang dulu rajin menghiasi layar kaca. Sekarang Televisi nasional lebih sering mengutamakan rating. Mereka menayangkan apa yang menurut mereka “bagus”. Ya, bagus untuk mendapatkan penghasilan 😆 😀. 

Generasi masa kini sudah mengalami evolusi jiwa. Jika kita ingat di era 70-an hingga 90-an, anak-anak masih sering bermain-main dengan kawan sekampung. Di kampung saya ada banyak permainan tradisional, yakni sambar elang, pocah piring, alep cendong (petak umpet), layangan, gambaran, bongkar pasang, congklak, ampera, lompat karet, guli (kelereng), kuaci, dll. Dan semua permainan itu membutuhkan beberapa personel. Ya masa kecil generasi masa itu merasakan kebahagiaan yang mungkin tak bisa didapatkan generasi masa kini. Dulu, ntah itu orang menengah ke bawah maupun menengah ke atas, permainannya tetap permainan tradisional. Sekarang? Kaum menengah ke bawah pun sudah mulai individualis.

Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan perkembangan teknologi, karena era 90-an juga sudah banyak permainan elektronik seperti gemot (gimbot, atau game watch), tamagochi, dan ponsel monofonik. Tapi generasi masa dulu kurang tertarik dengan itu semua. Sekarang, semuanya serba ada di genggaman tangan kita. Mau baca berita, mau nonton drama terbaru, mau nonton film box office, mau pesan transportasi, mau belanja, mau dengar musik, mau baca buku, mau menulis artikel, mau blogging, mau berfoto, mau merekam video, bahkan mau kepoin mantan pun sudah bisa diakses melalui smartphone. Keren memang. Tapi, masalahnya banyak remaja bahkan anak-anak yang sudah memiliki smartphone. Apalagi di dunia maya, berjubel konten negatif yang bisa diakses dengan bebas.

Pengawasan dari orangtuan? Duh, orangtua masa kini sudah semakin sibuk dengan pekerjaan mereka. Persaingan semakin ketat, uang semakin susah dicari, otomatis waktu orangtua pun tersita pada pekerjaan mereka. Alhasil, anak-anak mereka pun “dititipkan” di kursus-kursus atau bimbingan-bimbingan. Miris memang. Tapi, zaman sudah semakin kejam.

Anak-anak zaman sekarang semakin menggemari idola-idola yang menurut mereka keren. Tapi tak jarang juga ada selebram atau idola masa kini yang tidak mengajarkan nilai moral, mereka justru menyebarkan virus acuh tak acuh pada orang yang tak seide dengan mereka. Mereka menganggap bahwa orang-orang yang memberi nasehat atau kritik pedas adalah haters. Duh….. Padahal kan kritik juga penting bagi kita, terlepas dari itu salah atau benar. Para idola (termasuk selebgram) mencerminkan gaya hidup hedonis, konsumeris, hang out ke mall, cafe, diskotik, bar, club, bermesra-mesraan lalu posting ke sosial media. Dan anehnya orang-orang seperti itulah yang banyak digemari generasi masa kini. Memang, wajar kita mengidolakan seseorang, tapi tidak harus seluruh aspek hidupnya juga kita tiru. 

Mau di bawa kemana ya negeri ini? Jika para tetua di negeri ini terlalu sibuk dengan dunia pekerjaan demi mendapat untung, sementara itu generasi muda malah asik dengan gemerlap dunianya tanpa bimbingan para tetua. Daripada banyak bertanya, mending kita mulai dari diri sendiri. Mulailah dengan berpengharapan. Rangkul orang-orang sekitarmu, tak peduli siapapun dia. Lakukan kegiatan-kegiatan bermoral positif. Lalu sebarkan virus semangat itu ke yang lainnya. Masih ada harapan kok. Ya, negeri ini masih punya harapan.

Iklan
Ditulis dalam Korean. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: