DOWNLOAD FILM NARUTO: THE LAST!!

Untitled

DOWNLOAD FILM DI SINI

DOWNLOAD SUBTITEL INDONESIA DI SINI

Resensi:
Beberapa menit pertama film ini memperlihatkan sebuah rangkaian animasi yang sangat luar biasa, dibawakan dengan goresan hitam di atas putih layaknya lukisan tinta. Rangkaian animasi tersebut menceritakan perjalanan sejarah dunia Shinobi, dimulai dari kisah sang dewi Kaguya, pertempuran lintas generasi antara para reinkarnasi Indra dan Ashura, dan akhirnya ditutup dengan pertarungan terakhir antara Naruto dan Sasuke di lembah akhir. Artwork yang ditampilkan semakin indah dan bermakna, dibalut dengan lantunan komposisi ‘Greensleeves’ sebagai latar belakang musiknya.

(Trivia dikit ― Greensleeves adalah salah satu komposisi musik folk klasik dari tanah Inggris, ditulis oleh King Henry ke III, dan digubah kembali pertama kali oleh Richard Jones di tahun 1580)

Adegan berikutnya memperlihatkan Hinata kecil yang menangis di tengah area pepohonan yang diselimuti salju. Hinata menangis setelah dikasari oleh beberapa anak laki-laki yang menganggapnya sebagai ‘iblis’ karena Hinata memiliki mata putih, Byakugan. Naruto yang kebetulan berada di dekat tempat itu segera maju melindungi Hinata, memperkenalkan dirinya sendiri sebagai Uzumaki Naruto, bocah yang suatu saat akan menjadi Hokage terhebat. Naruto berusaha melawan mereka, namun dia dihajar habis-habisan sampai pingsan, dan syal merah miliknya dirusak oleh anak-anak tersebut. Setelah anak-anak itu pergi, Naruto siuman, dan melihat Hinata berdiri dihadapannya. Hinata sangat bersyukur dan mengucapkan terimakasih kepada Naruto atas pertolongannya, sambil mengembalikan syal Naruto yang bentuknya sudah tidak karuan. Namun Naruto beranjak pergi tanpa menerima kembali syalnya, Hinata terdiam, dia pun menyimpan syal merah itu sebagai kenang-kenangan pertemuan pertama mereka.

Beralih ke akademi. Guru Iruka meminta murid-muridnya mengeluarkan secarik kertas dan menulis nama ‘seseorang yang sangat kalian inginkan untuk ada di samping kalian, apabila dunia akan kiamat esok hari’. Naruto tidak menghiraukan perkataan gurunya itu dan malah bermain dengan selipat pesawat kertas, guru Iruka marah. Naruto dengan polosnya berkata bahwa dia tidak pernah mengenal ayah dan ibunya, dia juga tidak punya satupun teman, jadi dia tidak tahu harus menulis nama siapa. Dia juga berkata bahwa skenario konyol semacam ‘dunia akan kiamat esok hari’ tidak akan pernah terjadi, lalu tertawa. Guru Iruka terdiam. Sementara itu, di meja seberang, diperlihatkan Hinata sedang menulis nama seseorang di kertasnya, Uzumaki Naruto, itulah yang ditulisnya.

Cerita beranjak bertahun-tahun setelahnya, ke masa sekarang, dua warsa pasca perang besar para Shinobi. Kita dibawa ke lingkungan sekitar wilayah kediaman Hyuuga, dan di sana terlihat seseorang sedang berbincang dengan Hiashi Hyuuga, sang pemimpin klan. Seseorang tersebut bertanya sesuatu pada Hiashi, dia juga berkata bahwa jawaban Hiashi akan menentukan masa depan klan Hyuuga dan dunia. Hiashi tidak menjawab dan langsung menyerang orang dihadapannya tersebut, yang ternyata memiliki pasukan di belakangnya, sepasukan boneka.

Di sebuah tempat, Naruto ternyata sedang berada di akademi untuk memberikan pengajaran spesial bagi para calon ninja. Kedatangannya disambut meriah oleh murid-murid di sana, terutama para gadis. Sementara itu, dari kejauhan terlihat trio Ino-Shika-Cho tengah berdiri di seberang lapangan. Mereka berkomentar tentang Naruto yang begitu populer setelah menjadi pahlawan perang. Setelah selesai, Naruto terlihat berada di warung ramen, bersiap menyantap hidangan favoritnya. Tiba-tiba, Konohamaru datang dan meminta Naruto membantunya membereskan barang-barang peninggalan Sandaime di ruang penyimpanan, mereka pun bergegas.

Di tempat lain di Konoha, suasana damai menyelimuti setiap sudut pandangan. Tampak seorang gadis sedang merajut sebuah syal berwarna merah, tak lain gadis itu ialah Hinata, ia membuat syal tersebut untuk orang yang dicintainya, Naruto. Dan yang menarik adalah, syal lusuh yang menjadi kenang-kenangan pertemuan pertama Hinata dan Naruto diperlihatkan terlipat rapi di samping tempat duduk Hinata, membuat aura nostalgia semakin terasa.

Hari berganti, paginya Naruto dan Konohamaru berjalan-jalan di desa, di jalanan yang sudah penuh dengan warung-warung dan hiasan-hiasan. Hari itu adalah hari festival Rinne. Kemudian segerombolan gadis tiba-tiba datang dan mengerubungi Naruto, berfoto bersama, memeluk tangannya, dan memberinya banyak sekali hadiah.

Hinata keluar membeli benang wol untuk syal buatannya, tanpa sengaja bertemu Sakura. Sakura mengajak Hinata ke sebuah kafe, dia menyemangati Hinata untuk jangan ragu memberikan syal buatannya itu kepada Naruto bila sudah jadi. Sakura berkata bahwa Naruto terlalu polos dalam hal cinta, jadi Hinata harus menyampaikan perasaannya sejelas dan sesederhana mungkin, supaya Naruto paham. Hinata hanya terdiam.

Sakura juga bercerita kepada Hinata mengenai Naruto yang akhir-akhir ini menjadi sangat populer di kalangan wanita, bahkan para gadis dari desa lain sering rela jauh-jauh datang ke Konoha sekedar untuk bertemu dan berfoto dengan Naruto. Hinata lagi-lagi terdiam, Sakura melihatnya dan segera menghiburnya. Dengan muka penuh semangat, Sakura berkata bahwa dalam urusan cinta dan perasaan, seorang wanita harus gigih berjuang dan pantang menyerah.

Malam tiba, di kamar kecil Naruto, ia tampak memandangi langit malam bersalju dari balik jendela, di sudut ruangan, ratusan kotak-kotak hadiah yang tadi sore ia terima masih terbungkus rapi, belum tersentuh sama sekali. Dan di tangannya, saat ini Naruto sedang memegangi sebuah syal berwarna hijau dengan garis putih. Kelihatannya syal itu sangat berharga baginya. Sementara di tempat Hinata, ia masih sibuk mengerjakan syal merah itu.

Angin malam menerpa di semua sudut desa, tak terkecuali di perbatasan. Di sana terlihat Sai yang sedang melukis, dia melukis bulan. Namun Sai, dengan intuisinya menyadari bila ada sesuatu yang janggal, bulan yang dia lukis malam ini terlihat begitu besar, tidak seperti biasanya.

Tanpa terasa Hinata sudah menyelesaikan syal rajutannya, dia segera berlari turun ke lantai bawah untuk pergi memberikan syal tersebut ke Naruto. Namun belum sampai dasar tangga, Hinata tiba-tiba ragu, dia naik lagi ke kamarnya, lalu turun lagi, dan naik lagi, terus berulang sampai empat atau lima kali. Hanabi sampai heran melihat tingkah kakaknya itu. Hinata akhirnya membulatkan tekad dan pergi keluar rumah, menemui Naruto.

Di tempat lain, lima Kage tengah mengadakan pertemuan darurat untuk membahas keadaan bulan yang tampak aneh. Dari pertemuan tersebut terungkap bahwa bulan sedang di ambang kehancuran, sedikit demi sedikit bagian bulan remuk menjadi serpihan-serpihan kecil yang akan menghujani bumi. Serpihan-serpihan kecil itu akan jatuh sebagai komet, satu persatu, sebelum inti bulan itu sendiri kolaps dan jatuh ke bumi. Dan apabila itu terjadi maka umat manusia akan menemui akhirnya, dengan kata lain, kiamat.

Kembali ke Hinata yang ingin memberikan syal merah untuk pria pujaannya, akhirnya ketemu, tapi yang Hinata dapat adalah Naruto yang sedang makan ramen bersama Sakura dan trio Ino-Shika-Cho. Melihat Hinata datang, Naruto mengajaknya untuk makan bersama mereka. Hinata terlihat kecewa, karena sebenarnya dia ingin menemui Naruto sendirian, namun untuk menghormati teman-temannya itu, Hinata akhirnya ikut bergabung.

Namun tak lama setelah Hinata duduk, gerombolan gadis penggemar Naruto tiba-tiba datang dan menggoda Naruto dengan genitnya tepat di depan Hinata. Hinata akhirnya memilih pamit meninggalkan Ichiraku dengan alasan sudah kenyang, meskipun sebenarnya semangkuk ramen di depannya sama sekali belum tersentuh. Sakura yang melihat itu lalu memarahi Naruto dan menyuruhnya mengantar Hinata pulang ke rumah, tapi Naruto dengan polosnya bertanya, kenapa? Naruto berkata bahwa Hinata adalah gadis yang kuat, kenapa harus diantar pulang? Hinata mendengar itu dan segera beranjak. Sakura sempat menyusul Hinata dan menghiburnya.

Sementara itu, beberapa boneka bertopeng, boneka-boneka yang sama yang menyerang Hiashi, muncul di tengah-tengah desa yang senyap. Beberapa dari mereka menerobos masuk kediaman Hyuuga, mengincar sang putri, Hanabi, dan menculiknya.

Di batas desa, terlihat Sai yang sedang melukis dikejutkan oleh kemunculan salah satu boneka Toneri yang mengendarai semacam burung raksasa terbang rendah melewatinya ke arah luar desa. Sai melihat boneka tersebut membawa seseorang yang sedang tidak sadarkan diri, itu Hanabi. Mencium sesuatu yang tidak beres, Sai mengeluarkan elang dari tintanya, dan pengejaran pun dimulai.

Dalam perjalanan pulang, Hinata menghentikan langkahnya sejenak. Melihat jalanan sepi dan sendirian, dia memutuskan berlatih mengungkapkan perasaannya di situ, namun tiba-tiba Naruto muncul. Hinata yang kaget mencoba menguasai diri dan melakukan apa yang telah dilatihnya, namun perutnya tiba-tiba berbunyi keras sekali. Hinata malu setengah mati dan wajahnya memerah, dan memutuskan lari dari tempat itu, meninggalkan Naruto yang kebingungan.

Adegan berikutnya memperlihatkan Hinata yang sedang duduk-duduk di atas sebuah ayunan di tengah taman yang sepi, dengan syal merah rajutannya itu berada di pangkuannya. Tiba-tiba sesosok asing muncul di depannya, Toneri. Dia berkata ingin membawa Hinata bersamanya, Hinata berteriak. Naruto yang mendengar teriakan Hinata bergegas mencari asal suara itu. Naruto akhirnya menemukan Hinata dan berusaha menolongnya, namun salah satu boneka Toneri berhasil mendapatkan Hinata, lalu melarikan diri bersama Toneri. Sementara Naruto disibukkan dengan puluhan boneka yang tiba-tiba menyerangnya tanpa peringatan.

Dalam pelariannya, Toneri menggunakan suatu mantra misterius yang membuat chakra Hinata terkuras habis, kemudian melemparnya ke bawah, ke arah bangunan-bangunan. Hinata yang sudah lemas tak mampu menggunakan chakranya untuk mendarat dengan aman, beruntung syal rajutannya tersangkut di salah satu atap bangunan, Hinata menggunakan syal tersebut sebagai pegangan. Tak lama kemudian Naruto yang telah menghabisi seluruh boneka penyerangnya datang menjemput Hinata.

Toneri sekali lagi muncul di depan mereka berdua, berkata lantang bahwa dia pasti akan kembali untuk Hinata, kemudian menghilang di tengah-tengah sinar purnama. Bersamaan dengan hilangnya Toneri, hujan komet yang terbakar meluncur deras ke arah Konoha dan menghantam tepat di batas desa, di belakang tebing ukiran wajah para Hokage. Hinata, Naruto, dan para penduduk desa yang lain terkejut melihat kejadian tersebut, bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Segera setelah pertemuan lima Kage, pertemuan lain yang tak kalah penting juga digelar di ruang Hokage, dipimpin langsung oleh sang Rokudaime, Hatake Kakashi. Kakashi membentuk sebuah tim untuk misi penyelamatan Hanabi, yang terdiri dari Naruto, Hinata, Sakura, Sai, dengan Shikamaru sebagai ketua tim. Kakashi juga memberikan mereka sebuah gelang khusus yang menampilkan sebuah penanda waktu, tepatnya sebuah hitung mundur. Hitung mundur menuju waktu kolaps-nya inti bulan ke permukaan bumi, sekaligus hitung mundur menuju akhir peradaban.

Pencarian Hanabi pun dimulai. Dengan menggunakan elang-elang ciptaan Sai dan Byakugan Hinata, tim penyelamat ini menyusuri langit, coba mencari petunjuk sekecil apapun tentang keberadaan Hanabi. Mereka sempat menemukan salah satu kunai milik Hanabi, petunjuk itu akhirnya menuntun mereka ke sebuah gua yang memiliki danau di dalamnya.

Mereka sepakat bahwa mereka harus menyelam ke dalam danau tersebut, meskipun sebenarnya hal janggal sudah mereka rasakan sejak awal. Sai merasakan bahwa air di danau tersebut sangat aneh, karena ketika disentuh atau terkena pakaian, air danau tersebut tersebut tidak membasahi seperti layaknya air pada umumnya. Mengetahui hal semacam itu, mereka tetap memutuskan untuk menyelam.

Benar saja, hal yang tak kalah aneh menyambut mereka di dalam danau. Belasan, atau mungkin puluhan bola berwarna hijau melayang-layang di dalam air, di sekitar mereka, layaknya bulan-bulan kecil. Bukan hanya itu, sepertinya air danau ini memiliki daya magis yang melemparkan semacam ilusi. Ilusi tersebut memunculkan kembali beberapa ingatan masa lalu Naruto dan teman-temannya, ingatan-ingatan tersebut kemudian ter-refleksi di bulan-bulan kecil di sekitar mereka. Kilas balik kejadian ketika guru Iruka menyuruh Naruto menulis nama seseorang di akademi, kilas balik pertemuan pertama Hinata dan Naruto, kilas balik ketika ujian Chuunin, dan kilas balik yang lainnya terpampang jelas di permukaan bulan-bulan kecil tersebut, mengiringi mereka menyelam semakin dalam ke bagian lain danau ini.

Tanpa sadar, syal merah milik Hinata mengambang keluar dari tasnya dan melingkar di leher Naruto, bersamaan dengan kejadian itu, Naruto mulai dapat melihat ke dalam kilas balik ingatan Hinata, tanpa disadari oleh si pemilik ingatan itu sendiri. Naruto menemukan dirinya kembali berada di dalam kelas akademi, di waktu yang sama dengan kejadian dengan guru Iruka. Namun kali ini ada yang berbeda, dia bisa melihat dirinya sendiri dalam sudut pandang orang ketiga. Dia bisa melihat dengan jelas suasana kelas sore itu, dan juga sosok kecilnya yang sedang dimarahi guru Iruka.

(Trivia lagi ― Third-person’s point of view, atau sudut pandang orang ketiga, adalah sebuah sudut pandang di dalam penulisan dimana si author atau tokoh utama hanya berposisi sebagai pengamat atau observer dalam sebuah rangkaian kejadian, tanpa turut campur langsung di dalamnya)

Seketika pandangan Naruto menyisir ke seluruh ruangan kelas dan terhenti di sosok Hinata kecil. Naruto menghampiri mejanya, dan melihat dia sedang menulis nama seseorang, namanya. Naruto terdiam, dan bersamaan dengan itu kilas balik beralih ke masa ujian Chuunin. Masih dengan sudut pandang orang ketiga, kali ini dia melihat wajah Hinata yang merona merah setelah memberikan sebotol ramuan kepada Naruto kecil yang babak belur pasca pertarungan melawan Kiba. Naruto kembali hanya berdiri diam, tanpa berkata satu apapun.

Tanpa menunggu lama, kilas balik kembali beralih. Kali ini ke masa invasi Pain, tepat ketika Hinata dengan gagah berani berdiri di hadapan sang dewa, menantangnya, demi melindungi sang pujaan hati. Dan Naruto, masih dalam diamnya, agaknya mulai tersadar, bila selama ini ada seorang gadis yang mencintainya sepenuh hati, dan gadis itu bernama Hinata.

Rangkaian kilas balik yang menyentuh itupun terhenti ketika Naruto terbangun oleh suara Sakura, ternyata tanpa sadar mereka sudah berada di sisi lain dari danau. Setelah semua siap, di bawah komando Shikamaru mereka pun melanjutkan penjelajahan di tempat misterius tersebut. Namun sesuatu telah berubah, yaitu Naruto. Sesaat setelah terbangun dari rangkaian kilas baliknya itu, Naruto tak lagi bisa mengalihkan pandangannya dari Hinata. Ya, rasa itu mulai muncul.

Setelah lama menyelam, mereka akhirnya muncul di bagian lain dari gua tersebut. Di sana mereka menemukan belasan bola yang terbuat dari tanah melayang-layang di sekitar dinding gua. Mereka juga menemukan danau lain di dalam gua tersebut dan memutuskan kembali menyelam. Shikamaru, Sai, dan Sakura berangkat terlebih dahulu, sementara entah kenapa, Naruto malah diam saja. Hinata bertanya kepada Naruto kenapa dia tidak segera menyelam, Naruto tidak menjawab. Dia malah sempat ingin balik bertanya pada Hinata soal apa yang dilihatnya di dalam kilas balik, namun mengurungkan niatnya tersebut di detik-detik terakhir. Naruto lalu bergegas menyelam ke dalam danau, meninggalkan Hinata dalam kebingungannya.

Ketika Hinata akan menyusul ke dalam danau, Toneri tiba-tiba muncul di hadapannya. Hinata terkejut, namun dapat menguasai dirinya, dia lalu menanyakan keberadaan Hanabi kepada Toneri. Toneri menjawab bahwa Hanabi saat ini sudah ‘beristirahat’. Toneri memanggil Hinata dengan sebutan ‘Putri Byakugan’, dan memintanya untuk menikah dengannya. Naruto yang sadar ada yang tidak beres segera kembali ke permukaan, benar saja, dia melihat Toneri yang sedang mengancam Hinata. Mereka bertarung, Naruto menang, namun ternyata Toneri yang saat itu ada di hadapan mereka tak lebih dari sebuah boneka. Naruto dan Hinata segera bergegas menyusul Shikamaru dan yang lain.

Setelah sampai menyusul yang lain, Naruto melihat tempat Shikamaru kini penuh bekas sebuah pertempuran, dan ternyata memang benar, mereka habis bertarung dengan kepiting raksasa penjaga gua tersebut. Seluruh anggota tim telah berkumpul kembali, mereka berjalan kaki dan akhirnya menemukan sebuah celah di sisi lain gua tersebut. Celah tersebut membawa mereka ke sebuah tebing yang berada tepat di tepi samudera, dengan sebuah pemandangan yang menakjubkan. Dari situ mereka melihat beberapa pulau kecil yang melayang di udara, seakan tak terkena efek gravitasi sedikitpun. Shikamaru merasa semakin aneh terhadap keadaan ini, bahkan dia ragu bahwa ‘matahari’ yang menyinari mereka saat ini bisa jadi bukanlah matahari yang sesungguhnya. Dari sini, Shikamaru sudah mulai curiga kalau mereka sudah tidak lagi berada di tempat yang mereka kenal sebagai bumi.

Meski takjub melihat segala keanehan yang ditawarkan tempat misterius ini, mereka tetap melanjutkan pencarian, hingga akhirnya menuntun langkah mereka ke sebuah desa, desa yang sepertinya telah lama ditinggalkan. Shikamaru memutuskan bahwa mereka harus berpencar untuk melakukan pencarian di desa tersebut. Naruto dan Hinata mencari bersama-sama di deretan rumah yang telah kosong dan dipenuhi debu, dan sepanjang pencarian mereka, tetap, Naruto belum bisa mengalihkan pandangannya dari Hinata.

Di tengah pencarian mereka yang berlangsung beberapa malam, tanpa sadar Naruto mulai menunjukkan perasaannya kepada Hinata, meskipun hanya lewat hal-hal kecil. Seperti ketika Naruto mencoba membersihkan beberapa helai sarang laba-laba tanpa sengaja tersangkut di rambut Hinata. Naruto juga mulai sering sekali memulai obrolan dengan Hinata, sesuatu yang amat jarang dilakukannya sebelum ini. Hingga di waktu malam, ketika Hinata merajut benang untuk memperbaiki syal merahnya yang berlubang ketika insiden di Konoha, Naruto diam-diam tetap terjaga hingga larut untuk menemaninya.

Entah karena sedang jatuh cinta atau apa, Naruto yang pada dasarnya sudah ceroboh, menjadi semakin ceroboh. Ketika ingin ke belakang untuk buang air kecil, kakinya tersangkut jalinan jaring laba-laba dan akhirnya terpelanting jatuh, punggungnya terluka. Hinata yang mengetahui hal itu segera memberikan ramuan obat kepada Naruto. Naruto mencoba mengoleskan ramuan obat itu sendiri ke punggungnya, namun kesulitan, dan akhirnya Hinata turun tangan membantunya. (Adegan di atas sudah muncul di salah satu spoiler, yang selama ini kita sebut sebagai adegan ‘kerokan’.)

Tiba-tiba Sai muncul memecah keheningan, dia berkata bahwa ada sesuatu yang penting, dan dia ingin Hinata melihatnya. Mereka kemudian berjalan perlahan menyusuri beberapa bagian dari desa terabaikan tersebut hingga akhirnya tiba di semacam kompleks pemakaman di bawah tanah, dan bersamaan dengan itu, sesosok orang tua muncul.

Orang tua itu memanggil Hinata sebagai ‘Putri Byakugan’, panggilan yang sama dengan apa yang diucapkan Toneri. Tanpa berucap sepatah katapun lagi, orang tua tersebut tiba-tiba membuka mulutnya dan mengeluarkan semacam bola chakra yang bersinar terang. Byakugan Hinata bereaksi terhadap cahaya itu, dan sekelebat kilas balik muncul di hadapan sang putri, sebelum akhirnya pandangannya memudar, Hinata pingsan. Naruto yang melihat hal ini segera menyerang orang tua tadi, namun yang dia tangkap hanya seberkas cahaya yang menguap ke udara, hampa. Naruto dan Sai segera menyadari, bahwa sosok tua yang ada di hadapan mereka tadi adalah jiwa yang tak lagi hidup. Ya, dia hantu.

Malam tiba, Hinata yang semenjak tadi sudah siuman dari pingsannya, memutuskan untuk terjaga hingga larut, kembali merajut lubang di syal merahnya. Naruto menghampirinya dan bertanya tentang apa yang terjadi ketika sebelum dia pingsan, Hinata menjawab, bukan apa-apa. Jelas sekali sang putri sedang menyembunyikan sesuatu. Keesokan harinya. Setelah beberapa waktu pencarian tanpa hasil di desa mati tersebut, Shikamaru memutuskan ini sudah waktunya untuk melanjutkan pencarian mereka ke tempat lain. Mereka pun beranjak.

Perjalanan mencapai malam kembali. Dan masih sama dengan malam-malam sebelumnya, Hinata tetap sibuk dengan rajutannya. Namun malam ini sepertinya suasana sedikit lain. Padang rumput di bawah lautan bintang tempat Hinata merajut itu semakin berpendar dengan kehadiran sekawanan kupu-kupu yang bercahaya di sekitarnya. Sementara Naruto, berdiri di bawah pohon di seberang, juga melakukan hal yang beberapa malam ini selalu ia lakukan, diam-diam terjaga menemani Hinata.

Namun entah ada angin apa, Naruto memutuskan menghampiri Hinata. Naruto berkomentar tentang rajutan syal yang selama beberapa malam ini menyibukkan tangan Hinata. Hinata hanya tersenyum kecil, sambil terus merajut. Hinata lalu berkata bahwa dirinya adalah kakak yang menyedihkan, saat ini adiknya hilang entah kemana, dan yang bisa dia lakukan hanya duduk di sini, merajut syal. Naruto tertawa, dan meminta Hinata untuk jangan berpikiran seperti itu, dia yakin sebentar lagi mereka akan menemukan Hanabi. Hinata lagi-lagi hanya tersenyum kecil, dia memuji Naruto yang dianggapnya sebagai sosok yang baik. Naruto tertawa, sebentar, lalu mereda.

Entah karena kelepasan atau memang sudah waktunya, Naruto tiba-tiba bergumam pelan bahwa alasan dia sangat bersemangat menyelamatkan Hanabi adalah, selain karena dia pribadi memang ingin menyelamatkan Hanabi, dia juga melakukannya demi Hinata. Hinata terhenyak, tangannya berhenti merajut. Dia menoleh ke arah Naruto, memandangnya tajam, meminta Naruto mengulangi apa yang baru saja dia katakan. Naruto gelagapan, mungkin menyadari bila lisannya terlalu ceroboh. Masih dengan tatapan yang sama, Hinata kembali meminta Naruto mengulangi perkataannya. Naruto dengan sedikit ragu mengulangi kata-katanya di bagian ‘karena dia pribadi memang ingin menyelamatkan Hanabi’. Hinata masih memintanya mengulangi kata-kata lainnya sesudah itu. Naruto terdiam sejenak, menatap Hinata, lalu berkata lirih.

“Aku mencintaimu.”

Mungkin inilah maksud pendar indah segala cahaya yang berbaris malam itu. Suasana hening, waktu seakan berhenti, hanya tatapan senyap dua insan itulah yang bersuara.

Keheningan seketika pecah oleh kedatangan tiba-tiba sang musuh, Toneri. Dia mengendarai semacam wahana, melayang turun dari atas bulan menuju tempat Hinata dan Naruto. Naruto seketika berteriak, segera bersiap berlari menerjang ke arah Toneri, namun langkahnya terhenti oleh Hinata. Tanpa bicara satu patah katapun, Hinata menyerahkan syal rajutannya kepada Naruto lalu melangkah, mendekat, dan menaiki wahana milik Toneri. Naruto yang tak juga paham apa yang sedang terjadi, dia berteriak, bertanya pada Hinata tentang apa yang sedang dia lakukan.

Dengan senyum sinisnya, Toneri menjawab bahwa tentu Hinata datang padanya karena mereka akan segera menikah. Naruto terhenyak, dia bertanya pada sang putri apakah yang dikatakan Toneri tersebut benar adanya. Hinata hanya menjawab dengan sebuah anggukan kecil, dia tak membantah. Naruto terdiam, seakan tak percaya. Sementara wahana Toneri mulai terbang menjauh.

Masih dalam kebingungannya, Naruto segera menaiki elang tinta milik Sai dan mengejar mereka, sambil terus berteriak meminta Hinata untuk kembali. Melihat Naruto terus mengejarnya, Toneri mulai menyerang. Dengan sebuah mantra aneh yang dilemparkannya ke arah Naruto, chakra Kurama milik Naruto langsung terkuras habis. Serangan tersebut juga jatuh menghujam tanah, menimbulkan lubang besar bekas tubrukan di sana. Naruto yang telah lemas juga jatuh ke dalam lubang tersebut, melihat ke arah langit dengan matanya yang mulai kabur, seiring Toneri dan Hinata yang terus menjauh, menghilang dari pandangan Naruto. Naruto tak sadarkan diri, di samping syal merah yang kini telah terbakar habis, simbol patah hati kah?

Fokus sejenak beralih ke keadaan di desa-desa para Shinobi. Setiap desa sedang berjuang mati-matian bertahan dari hujan komet dengan segala daya dan upaya yang mereka bisa lakukan. Namun diantara semuanya, Kumogakure terlihat paling menonjol. Di bawah komando Raikage, para Shinobi Kumo menggunakan sebuah meriam chakra berukuran raksasa untuk menghancurkan komet-komet tersebut. Dengan sumber daya seperti itu, pantaslah mereka disebut sebagai kekuatan militer utama diantara kelima desa besar yang lain.

Sementara di tempat lain, terlihat sosok yang kita temui di awal cerita, dialah Hiashi Hyuuga. Sang pimpinan klan Hyuuga tersebut terlihat tidak sadarkan diri, seakan kelelahan setelah pertarungan yang amat panjang. Tanpa disadarinya, sebuah langkah kaki misterius mendekati tempatnya terbaring. Sekelebat sosok yang sebenarnya tak asing mulai tampak dari kegelapan, seorang pemuda berjubah dengan tangan kiri yang tak lagi ada. Ya, sang pahlawan perang yang terlupakan, Uchiha Sasuke.

Jauh di sudut dunia yang lain, tim Shikamaru masih tertahan di dalam sebuah gua tak jauh dari lubang besar tempat Naruto terjatuh. Mereka beristirahat, terlihat pula Sakura yang sedang mengobati luka-luka Naruto yang masih tak sadarkan diri. Suasana tak secerah biasanya, terlihat rona murung di wajah mereka semua, kecuali mungkin Shikamaru. Dengan fokusnya yang masih terjaga, dia mencoba menepis kecurigaan dirinya sendiri beberapa waktu lalu. Namun ketika Shikamaru memandang keluar gua, pemandangan yang semakin menguatkan firasatnya pun terpampang. Sebuah planet berwarna biru terlihat dari kejauhan, Shikamaru benar, mereka tak lagi berada di bumi. Semua tempat, matahari, bintang, semua hal yang mereka temui sampai titik ini tak lebih dari sekedar keajaiban ‘Hollow Earth’.

(Trivia ― Hollow Earth, atau bumi berongga, adalah sebuah teori geologis kontroversial yang menganggap bumi memiliki sebuah rongga raksasa di dalamnya. Rongga tersebut memiliki sistem penunjang kehidupan sendiri seperti matahari, oksigen, dan sebagainya. Di movie The Last, teori ini mungkin diaplikasikan di bulan, dimana bulan digambarkan memiliki ‘peradaban’ di dalam rongganya)

Hinata terbangun dari tidurnya, atau pingsannya, entahlah. Dia melihat sekeliling, mendapati dirinya berada di sebuah kastil. Pandangannya terhenti di sebuah ranjang di seberang ruangan, terlihat sosok yang tak asing terbaring di atasnya, itu Hanabi. Dia tak sadarkan diri, kedua matanya tertutup balutan kain. Hinata bergegas mendekat ke arahnya, dia meraih tangan Hanabi dan menangis di atas jemari adiknya itu. Tiba-tiba Toneri muncul, ada yang sedikit berbeda darinya kali ini, kedua bola matanya kini berubah warna menjadi putih keperakan. Hinata mengenali sepasang mata itu. Ya, itu Byakugan milik Hanabi, yang kini telah berpindah ke dalam rongga mata Toneri.

Hari berganti, Hinata menghabiskan waktunya di kastil tersebut dengan duduk dalam lamunannya. Toneri coba membuka pembicaraan, dia meminta Hinata membuatkannya syal seperti yang dirajutnya untuk Naruto, dan entah karena terpaksa atau ada alasan lainnya, Hinata menyanggupi. Tak lama, Toneri mulai bercerita tentang dirinya sendiri. Toneri adalah keturunan terakhir dari Hamura Ootsutsuki, saudara kandung dari dewa para Shinobi, Hagoromo. Dia menjelaskan bahwa sebenarnya apa yang dia lakukan ini hanyalah untuk memenuhi wasiat dari kakek moyangnya, Hamura. Menurut Toneri, Hamura berwasiat bahwa keturunannya harus menghancurkan bumi apabila suatu saat nanti keturunan Hagoromo tak lagi mampu merawatnya dengan baik. Dan saat ini waktunya telah tiba, para Shinobi telah melampaui batasannya, merusak bumi dan bahkan mengganggu keseimbangan bulan, Toneri merasa bahwa saat inilah takdirnya harus dipenuhi.

Di momen ini juga terkuak apa sebenarnya yang dilihat Hinata ketika dia bertemu dengan arwah di desa mati sebelum dia pingsan. Ternyata itu adalah sebuah kilas balik, tentang sebuah perang besar di masa lalu yang terjadi di sini, di bulan. klan Otsutsuki, mereka pernah terlibat perang, entah dengan klan lain ataukah perang saudara, namun yang pasti salah satu pihak mengakhiri perang menggunakan sebuah senjata pemusnah massal. Senjata yang begitu dahsyat, hingga mampu menghapus seluruh klan lawan dengan satu kali tembakan. Kilas balik berakhir di situ. Namun gadis secerdas Hinata mulai paham sesuatu. Toneri, senjata itu, dan kehancuran bumi, ketiga hal tersebut pasti berhubungan, dan Hinata memutuskan untuk mencari tahu.

Suatu malam, masih di kastil yang sama, Hinata tertarik melihat sebuah pulau melayang dari balik jendela. Toneri menjelaskan bahwa itu adalah makam kakek moyangnya, Hamura Ootsutsuki, pulau tersebut akan melayang di dekat kastil sekali setiap satu tahun. Hinata menggunakan Byakugan untuk melihat ada apa di balik pulau tersebut, dan dia terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ternyata firasatnya benar, kilas balik tentang perang besar itu memang memiliki hubungan dengan Toneri. Senjata pemusnah massal yang dilihatnya dalam kilas balik itu ternyata tersimpan di dalam pulau, dan Toneri pasti akan menggunakannya untuk menghancurkan bumi, begitu pikirnya. Hinata memutuskan untuk menyusup, mencari tahu lebih dalam.

Belum lama langkahnya menginjak bagian dalam pulau, tiba-tiba sesosok samar muncul di hadapan Hinata. Di tengah keterkejutan Hinata, sosok itu memperkenalkan diri, dialah Hamura Ootsutsuki. Tanpa basa-basi, Hamura menjelaskan pada Hinata bahwa penghancuran bumi sama sekali bukan wasiatnya, dia berharap Hinata mampu menghentikan Toneri sebelum semuanya terlambat. Hamura percaya, sebagai anggota klan Hyuuga, Hinata yang juga masih keturunannya itu adalah satu satunya orang mampu melakukan tugas ini. Hinata masih belum sepenuhnya menguasai diri, namun dia tahu pasti apa yang dikatakan oleh sosok samar di depannya tersebut. Hinata ingin bertanya satu dua hal lagi pada moyangnya itu, namun ketika pandangan mata Hinata berusaha mencari sosoknya, Hamura telah menghilang.

Pencarian berlanjut. Dengan mata dan intuisinya yang tajam, Hinata akhirnya menemukan lokasi senjata tersebut. Tanpa banyak bicara Hinata berupaya menghancurkannya dengan segenap tenaga yang dia punya, namun gagal, dan Toneri tiba-tiba muncul dihadapannya. Hinata menceritakan semua yang dia dengar dari Hamura, meminta Toneri untuk menghentikan segala rencana kejamnya. Namun seperti bicara pada sebuah dinding, Hinata tak dihiraukan. Lagi-lagi Toneri menggunakan mantra aneh pada Hinata, tubuhnya memucat seakan kehilangan daya kehidupannya. Sementara di saat bersamaan, sebuah lukisan wajah yang menggambarkan Hinata yang sedang menangis muncul di dinding. Lukisan itu terlihat sangat hidup, seakan memiliki jiwa. Dan benar saja, memang di dalam lukisan itulah jiwa Hinata terpenjara, sehingga tubuhnya kini tak lebih dari sekedar boneka yang bergerak tanpa nyawa. Mungkin dengan cara seperti inilah Toneri membuat pasukan bonekanya.

Jauh di sisi lain bulan, ini sudah tiga hari sejak kejadian hilangnya Hinata. Naruto akhirnya terbangun dari pingsannya, dan kata-kata pertama yang dia ucapkan adalah sebuah pertanyaan, tentang Hinata. Hal itu tak lagi aneh di telinga anggota tim yang lain, sebab menurut Sai, selama tak sadarkan diri Naruto juga terus memanggil nama Hinata, lagi dan lagi. Dan seperti biasa, Sai masih sempat berkomentar dengan polosnya. Jadi seperti inilah rasanya ketika cinta kita bertepuk sebelah tangan, begitu katanya. Naruto hanya terdiam.

Melihat Naruto sudah siuman, Shikamaru memutuskan mereka harus segera bergerak, melanjutkan misi pencarian Hanabi, dan sekarang juga Hinata. Naruto masih terdiam tanpa jawaban, hal itu menyulut reaksi keras sang ketua tim. Shikamaru membentak Naruto, bila Naruto menyerah begitu cepat seperti ini, dia sama sekali tidak pantas menjadi seorang Hokage. Wajarnya orang yang sedang kalut, Naruto mencengkeram kerah baju Shikamaru, menganggap teman akrabnya sejak kecil itu tidak tahu apa-apa tentang masalahnya, dan memperingatinya untuk tidak banyak bicara. Shikamaru, dengan nada bicara yang semakin keras berkata, “Aku memang tidak tahu masalahmu dengan Hinata! Tapi kalau kau masih berani menyebut dirimu seorang Shinobi, bangun, ayo lanjutkan misi! Bila tidak, diam saja dan matilah di sini!”. Sai terdiam, dia tidak pernah melihat Shikamaru bersikap sekeras itu. Naruto melepaskan cengkeramannya, dan melangkah gontai ke sudut lain gua itu, termenung.

Shikamaru terdiam sejenak, lalu menghampiri Naruto, menggenggam lengannya dan menyeretnya ke suatu tempat. Di tempat yang hanya diterangi sepasang obor itu terlihat Sakura yang sedang terbaring, beristirahat. Sakura kelelahan setelah hampir seluruh chakranya telah dia gunakan untuk merawat Naruto. Shikamaru meninggalkan tempat itu, memberi kesempatan Naruto dan Sakura untuk bicara berdua.

Sakura tersenyum kecil melihat Naruto sudah sadar, dia menanyakan keadaannya saat ini. Naruto menjawab dengan pertanyaan yang sama, dan lagi-lagi hanya dibalas senyum oleh Sakura. Naruto mulai bercerita tentang Hinata yang dengan sukarela bersedia pergi bersama Toneri. Sakura menimpali, bila Hinata melakukan hal itu, sudah jelas dia punya pertimbangan tertentu, entah rencana atau apapun, yang pasti gadis secerdas Hinata tidak akan melakukan hal berbahaya seperti itu tanpa paham benar apa yang dilakukannya. Sakura menyebut Naruto sebagai orang yang bodoh karena mencerna sikap Hinata terlalu harfiah, dan orang yang super bodoh kalau sudah tentang cinta dan perasaan. Sakura telah lama tahu bahwa Naruto menyimpan rasa untuknya, namun Sakura tidak bisa membalas perasaan Naruto karena Sasuke, dan hanya Sasuke lah yang ada di dalam hati Sakura sejak dulu. Atas dasar itu, Sakura sangat yakin bila Hinata, yang telah menyukai Naruto jauh lebih lama dari masa jatuh cinta Sakura ke Sasuke, tidak akan pernah memalingkan perasaannya ke orang lain. Mendengar itu Naruto mulai bisa tersenyum, dia paham apa yang coba dikatakan Sakura.

Sementara itu di bumi, semua Shinobi masih sibuk mempertahankan dirinya sendiri dari hujan komet yang melanda desa mereka. Di atas langit Konoha, pecahan besar komet meluncur deras ke arah desa. Rock Lee segera bertindak cepat dan menghancurkannya dengan sebuah tendangan, namun komet lain yang tak kalah besar meluncur melewati penjagaannya.

Ketika seakan segera menghujam tanah Konoha, komet besar itu mendadak hancur berkeping-keping. Kakashi yang menyaksikan hal itu pun bertanya-tanya, sebelum akhirnya rasa penasarannya terjawab oleh sosok misterius yang berkata bahwa selama Naruto tidak ada di desa, maka dirinya lah yang akan melindungi Konoha. Ya, sosok itu adalah Sasuke. Setelah berkata seperti itu, Sasuke menghilang. Bersamaan dengan hilangnya Sasuke, tiba-tiba tubuh Hiashi yang tak sadarkan diri sudah terbaring di belakang Kakashi, Izumo, dan Kotetsu.

Di Kumogakure, hujan komet telah berhasil dijinakkan oleh meriam chakra mereka. Kumo mengalihkan sasarannya ke asteroid-asteroid yang belum memasuki atmosfer bumi, dan kemudian bulan itu sendiri. Raikage menginformasikan rencana itu kepada semua Kage yang lain.

Kembali ke kastil, Hinata yang telah kehilangan jiwanya itu terlihat berdiri di atas altar bersama Toneri, sepertinya prosesi pernikahan sedang berlangsung. Namun sebelum semuanya terlambat, datanglah para penyelamat. Naruto dan Shikamaru tiba-tiba muncul menginterupsi jalannya pernikahan, Toneri panik dan membawa Hinata keluar dari tempat itu. Naruto dan Shikamaru berusaha mengejar, namun puluhan boneka Toneri muncul menghalangi jalan mereka. Sakura bertarung dengan boneka Toneri, teman Naruto memutuskan untuk tinggal dan menghadapi mereka, dan menyuruh Naruto segera pergi menyusul Toneri dan Hinata.

Toneri terkejar. Naruto meminta Hinata kembali dan bersiap untuk menyerang. Toneri yang mulai terpojok menggunakan cara licik, dia menggunakan Hinata yang telah kehilangan jiwanya untuk menyerang Naruto. Namun Naruto mampu menghindar, dan mampu menangkap Hinata. Naruto lalu mencoba menghilangkan pengaruh mantra Toneri yang ada pada Hinata, dan dia berhasil. Toneri yang melihat itu kembali bersiap menggunakan mantra anehnya untuk mempengaruhi Hinata sekali lagi, namun tiba-tiba dia merasakan sakit yang luar biasa di kedua matanya. Apa mungkin Byakugan Hanabi memberontak pada tuan barunya? Hinata dan Naruto memanfaatkan celah itu untuk melarikan diri, meninggalkan Toneri yang masih kesakitan. Naruto dan Hinata segera bergegas menuju tempat senjata pemusnah massal milik Toneri tersimpan.

Sesampainya di sana, mereka segera mencoba menghancurkan senjata itu dengan segenap tenaga, namun entah kenapa, tetap gagal. Naruto tiba-tiba teringat momen ketika mereka menggabungkan kekuatan di perang dunia Shinobi waktu pertarungan menghadapi Juubi dan Obito, kita harus mencobanya lagi, begitu kata Naruto. Hinata segera memfokuskan chakranya dan membentuk dua telapak singa Juho Shoshiken, sementara Naruto merapal Oodama Rasengan, lalu menggabungkan keduanya. Dan kali ini berhasil, senjata itu hancur berkeping-keping, menguak sebuah pemandangan yang sangat mengerikan. Ratusan bola mata Byakugan terlihat bertebaran seiring ledakan senjata tersebut. Hinata dan Naruto terdiam sejenak melihat pemandangan seperti itu, namun segera menguasai diri mereka dan bergegas menyusul anggota tim yang lain.

Keduanya akhirnya bertemu dengan Shikamaru, Sai, dan Sakura yang ternyata telah menemukan Hanabi. Namun bukan hanya Hanabi, Sakura juga menemukan sebuah syal merah yang dirajut Hinata untuk Toneri. Dia lalu memberikannya pada Hinata, dan menyuruhnya melakukan apa yang seharusnya dia lakukan sejak lama, yaitu memberikan syal itu kepada Naruto. Kali ini tanpa rona merah atau keraguan, Hinata memberikan syal itu pada Naruto, dan tanpa ragu pula, Naruto menerimanya dengan senang hati.

Kembali ke bulan. Toneri yang sepertinya telah keluar dari kesakitannya segera mengeluarkan semacam patung raksasa yang wujudnya mengingatkan kita pada Gedo Mazo, cangkang Juubi yang kini terkunci di dimensi lain. Toneri dan patungnya segera menyerang Naruto dan kawan-kawannya. Ia kembali merebut Hinata dari Naruto lalu mengurungnya di sebuah kurungan berwarna emas. Melihat hal itu, Naruto segera bersiap bertarung. Dia menggabungkan Sennin mode dan chakra Kurama, sekaligus mewujudkan Kurama itu sendiri. Kedua mahluk raksasa itu pun saling berhadapan, pertarungan pun dimulai.

Saat tengah menemani Hiashi yang terbaring, Kakashi dapat laporan bahwa sesuatu sedang terjadi di bulan, dia punya firasat bahwa Naruto dan yang lainnya pasti sedang ada di sana. Sehingga ketika Raikage menginformasikan rencananya menghancurkan bulan, Kakashi bersikeras untuk menghentikannya. Namun watak keras Raikage tak mudah dilawan, setelah Kakashi mendapatkan dukungan dari ketiga Kage yang lain, barulah Raikage melunak. Dia setuju menunda serangan selama satu jam, bila lebih dari itu, Kumo akan melanjutkan rencananya.

Pertarungan sengit terjadi di permukaan bulan. Naruto dan Toneri saling bertukar serangan. Mungkin karena merasa terdesak, Toneri menggunakan semacam mode Rikudo dan segera mengeluarkan sebilah pedang raksasa dengan kekuatan yang amat dahsyat. Dengan satu tebasan dari pedang itu, Toneri mampu membelah bulan menjadi dua bagian. Luar biasa!

Naruto tak kehilangan fokusnya, dia segera merapal Rasenshuriken dan melemparkannya ke arah Toneri, namun dapat dihindari. Jual beli serangan terus terjadi, hingga akhirnya entah kenapa dan bagaimana, Toneri kehilangan mode Rikudonya. Naruto memanfaatkan kesempatan ini untuk kembali menyerang Toneri. Namun ketika serangan Naruto hampir siap, tiba-tiba ratusan Byakugan yang berasal dari senjata pemusnah yang dihancurkan oleh Hinata dan Naruto tadi diserap oleh Toneri, dan memberinya energi tambahan. Dengan energi itu, Toneri membentuk semacam bola chakra berwarna hijau. Bola chakra itu mampu menyerap seluruh chakra Naruto, bahkan Naruto kehilangan Sennin mode dan mode Kuramanya. Toneri tertawa, seolah dia telah menang.

Namun tanpa dia sadari, bola chakranya juga menyerap energi matahari, energi yang sangat sulit dikendalikan. Tubuh Toneri mulai mengembang dan melayang ke luar angkasa, membuatnya sangat lemas. Ketika seakan tubuhnya akan meledak, tiba-tiba ada yang menggenggam lengannya dan menariknya kembali ke permukaan bulan, itu Naruto. Toneri yang telah lemas tanpa daya mendarat kembali di permukaan bulan, Hinata segera mengambil kembali mata Hanabi darinya. Toneri Ootsutsuki sudah kalah.

Bersamaan dengan jatuhnya Toneri, patung raksasa yang sedari tadi bertempur menghadapi Kurama juga ikut menghilang. Misi telah selesai, Toneri sudah dikalahkan, Hinata dan Hanabi pun telah berhasil diselamatkan. Kurama segera mengirim sinyal dengan sebuah tulisan ke orang-orang di bumi. Naruto memang seseorang yang tak pernah ingin mempertahankan permusuhan, dia dengan yakinnya mengajak Toneri untuk ikut pulang ke bumi bersama mereka, daripada harus hidup seorang diri di bulan. Toneri hanya tersenyum, dia berkata bahwa lebih baik dia hidup di sini, di bulan, jauh dari peradaban. Naruto menawarinya sekali lagi, namun kembali, Toneri tersenyum dan menolak.

Shikamaru, Sakura, dan Sai telah lebih dulu keluar dari rongga bulan dan tiba di danau tempat pertama kali mereka masuk. Sementara Hinata dan Naruto, yang berjalan pelan menyusul mereka telah sampai di gua dengan bulan-bulan kecil yang melayang di langit-langitnya. Sama seperti ketika di dalam danau, bulan-bulan kecil itupun mulai menampilkan berbagai kilas balik ingatan Hinata dan Naruto, namun kali ini mereka berdua dapat melihat ingatan satu sama lain, tanpa ada batasan. Naruto meraih tangan Hinata, menggenggamnya erat. Sambil saling berpegangan tangan, mereka melompat dari satu bulan ke bulan yang lain, menuju langit-langit gua.

Naruto teringat tentang tugas yang diberikan guru Iruka semasa di akademi dulu, tentang nama seseorang. Naruto teringat betapa sulitnya dia menentukan nama siapa yang harus dia tulis, karena dia memang tidak punya siapa-siapa dalam hidupnya. Namun kini semua berubah, dia sudah tahu nama siapa yang akan dia tulis. Tepat di depan Hinata, Naruto berkata bahwa dia sangat mencintainya, dan ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Hinata. Hinata tersenyum, dia tak bisa berkata apapun selain, iya.

Seiring perjalanan mereka ke langit-langit gua, gambaran evolusi cinta mereka terpampang jelas di bulan-bulan kecil di sekitar mereka. Terasa sangat nyata, karena penampilan mereka berdua juga ikut berganti seiring kilas balik apa yang sedang diperlihatkan. Di mulai dengan masa remaja mereka, ketika Naruto baru pulang dari latihan tiga tahunnya bersama Jiraiya, lalu berlanjut dengan kilas balik ketika masa-masa mereka menjadi Genin, dan ditutup dengan masa kecil mereka, masa ketika untuk pertama kali mereka bertemu.

Gua itu mulai runtuh sedikit demi sedikit, tepat ketika mereka berdua sampai di langit-langit. Mereka keluar dari gua dan segera menyelam ke dalam danau, menyusul Shikamaru dan yang lain. Setelah semua orang sudah kembali berkumpul, Naruto menggunakan Rasengan untuk melubangi mulut gua dan mereka pun keluar dari situ, dan entah kenapa, melayang di udara. Mereka terus melayang. Dan tepat di depan sang purnama, Naruto menarik Hinata ke pelukannya, lalu ah, kejadian sesudahnya tak perlu lagi diceritakan. (Sudah ada di spoiler)

Akhir yang manis untuk sebuah cerita yang luar biasa.

Dalam scene credit, kita diperlihatkan banyak sekali gambar tentang pernikahan Naruto dan Hinata. Terbalut rapi dengan alunan tembang Hoshii no Utsuwa dari Sukima Switch yang menjadi latarnya. Menjelang akhir credit, diperlihatkan pula Sasuke yang sedang menjelajahi sebuah gurun pasir, sendirian. Credit scene berakhir dengan foto bersama semua yang hadir di pernikahan Hinata dan Naruto, termasuk Hanabi yang memegang foto kakak sepupunya yang telah meninggal, Hyuuga Neji.

TAMAT

Note: Naruto akan kembali lagi dengan mini seri yang menceritakan ‘Next Generation’ pada bulan April tahun ini. Lalu, Boruto the Movie, kisah satu tahap lebih maju dari chapter terakhir, dimana Naruto telah menjadi Hokage dan mempunyai dua orang anak akan muncul pada bulan Agustus tahun ini juga.

DOWNLOAD FILM KLIK DI SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: