CERBUNG FIKSI: Salah Jalan (Part 3)

Baca “Salah Jalan Part 1”
Baca “Salah Jalan Part 2”

Sepeda itu kukayuh sekencang-kencangnya. Mumpung jalanan sangat kosong, aku bisa melaju sangat cepat. Aku melihat Jessica berada di belakangku. Aku tersenyum kecil. ‘Sudah kuduga, aku pasti menang!’ gumamku dalam hati. Tapi, belum sempat aku tersenyum puas, aku menabrak sebuah batu yang ukurannya lumayan besar. Aku mencoba menahan keseimbangan, sehingga menyebabkan kecepatanku melambat. Dan, kesempatan itu dipergunakan Jessica. Dia melaju mendahului aku. Setelah aku memperoleh keseimbanganku, dia sudah terlihat sangat jauh di depan. Segera kukayuh sepedaku hingga mencapai persimpangan Pasar 1 Tanjung Sari, tempat garis finish-nya. Tapi, sial! Dia sudah bertengger di sana. Duduk santai di atas sepeda merah muda-nya sembari menatapku. Aku jadi kikuk.
“Sesuai kesepakatan awal…..,” ujarnya.
“Iya aku tau! Baiklah, aku turuti kesepakatan itu!” Aku menundukkan wajah. Tidak biasanya aku kalah dalam balapan sepeda. Kalau saja batu itu, .. Ah! Ya sudahlah! Aku terlanjur kalah.
“Sebelum kita pulang, kita singgah makan sore di warung itu yuk!” ajaknya. “Kamu belum makan, kan?”
“Belum, sih!”
“Oke, kita makan di situ aja!” ujarnya sembari mengayuh sepedanya ke seberang. Warung itu berjarak kira-kira beberapa meter dari garis finish kami.

Aku menghampiri warung itu. Dari tampilan luarnya, kelihatannya warung ini milik orang Padang. Kuparkirkan sepedaku di depan warung itu. Aku menggemboknya untuk memastikan keamanannya. Aku pun berjalan memasuki warung makan itu. Aku melihat Jessica sudah duduk. Dia memilih lesehan. Dia kelihatan lebih manis dengan gaya feminin seperti itu.
“Kok di sini?” tanyaku.
“Lebih asyik! Oh ya, gag terasa lusa dah masuk bulan Ramadhan ya!”
“Oh ya?” Aku mengerutkan dahi. Aku tidak tahu sama sekali.
“Loh, kamu tidak tahu? Maaf, kamu Muslim gag?” tanyanya dengan nada pelan.
“Oh, tidak. Saya Kristen,” jawabku sopan.
“Oh, maaf kalau begitu!”
“Gak papa kok!”
“Aku gag sabaran menjalani Ramadhan kali ini. Ini adalah Ramadhan pertamaku jauh dari orangtua. Semoga aku bisa menjalaninya,” ucapnya antusias.
“Amin!” ujarku mengaminkan.
“Hmm, apa sih enaknya puasa?” tanyaku.
“Ya, puasa itu bukan masalah enak atau tidak enak. Puasa itu menurutku lebih ke perjalanan spiritual. Seberapa kuat kita dari godaan dan nafsu. Tapi, itu semua harus dijalankan setiap hari, bukan hanya pada saat Ramadhan saja. Hanya saja, pada saat Ramadhan, semua terasa lebih membutuhkan iman. Tapi, kaum Mukmin harus menjalaninya dengan ikhlas.”
“Oh, begitu!” gumamku. Selama ini aku kurang tahu apa mengenai Ramadhan. Yang aku tahu mengenai Ramadhan hanyalah kata “Sahur” dan “Berbuka”. Hanya itu saja. Betapa malunya diriku, kelihatan apatis di depan Jessica.

Tak terasa, makanan yang dipesan pun datang. Aku memesan ayam penyet, favoritku. Sedangkan Jessica memesan gado-gado. Aku bingung, mengapa Jessica memesan makanan itu. Apa enaknya sih makanan itu? Tidak beraturan.

“Loh, kok belum dimakan sih?” Kelihatannya Jessica mengetahui aku memandanginya dari tadi.
“Oh, iya ini mau dimakan, kok!” Aku gugup. Sebelum makan, aku berdoa. Jessica juga demikian. Aku sangat simpati melihat Jessica. Kelihatannya dia Muslim yang taat. Tidak seperti aku, tidak taat pada keyakinanku. Aku merasa nyaman berteman dengan Jessica. Nyaman. Hmm, nyaman???

bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: