CERBUNG FIKSI: Salah Jalan (Part 2)

Baca “Salah Jalan Part 1”

Sebulan sudah aku di kota Medan ini. Jujur, kota ini sangat panas! Bahkan, malam-malam sekalipun aku tetap keringatan dalam kamar, walaupun aku baru mandi. Mengenai aktivitasku di kampus, belum terlalu banyak. Kawan-kawanku pun belum mencapai belasan. Susahnya mendapatkan teman di sini. Berbeda dengan waktu di kampung. Aku sudah cukup mengenal iklim dan karakter orang-orang di kampungku, jadi aku cukup cepat dalam mendapatkan teman.

Sore kali ini tidak begitu terik. Aku putuskan untuk berjalan-jalan menaiki sepeda di Kampung Susuk, tempat aku ngekos. Aku melihat hamparan sawah yang cukup luas, membuat mataku menjadi terasa lebih segar. Sesekali aku menghentikan ayunan sepeda, dan menatap langit. Aku melihat beberapa orang sedang duduk di dangau di tengah hamparan sawah itu. Mereka menghalau burung-burung yang hinggap di antara padi itu. Memang sangat susah menjadi seorang petani.

“Dhuar!” sapa seseorang mengagetkan aku. Aku menoleh ke belakang. Ternyata dia adalah Jessica, teman satu kosku. Dia orang pertama yang kukenal di kosku.
“Ah, kamu, Jess!”
“Ngapain kamu di sini? Kayak gag ada kerjaan aja!”
“Bosan di kosan mulu! Mumpung ada sepeda, ya aku pakai mengelilingi Kampung Susuk ini,” ujarku.
Jessica memandangi sekitar, lalu mengerutkan dahi.
“Ah, kayaknya gak ada yang istimewa di sini!”
“Ya, setidaknya masih ada pemandangan yang bisa dilihat, Jess!”
“Kalau pemandangan sih, di kampungku juga banyak sawah. Bosen liat sawah mulu!” serunya agak nyengir.
“Ya, wajar! Kamu kan dari Tarutung. Sedangkan aku, dari Siantar. Memang sih, di Siantar banyak sawah juga. Tapi, aku tinggal di daerah yang tidak ada sawahnya. Lagi pula, masih syukur bisa liat sawah di kota Medan yang suntuk mumet ini!”
“Iya juga ya!” ujarnya sembari mengangguk-anggukkan kepala.
“Balap sepeda yuk!” ajakku.
“Hah? Kamu yakin?” tanyanya menyepelakan aku.
“Ya! Kita sama-sama punya sepeda! Sekalian aja kita balapan!” Aku mengangkat alisku sebelah. Dia memandangiku, tampak meremehkan aku.
“Oke! Kita balapan! Tapi, apa taruhannya?”
“Mentraktir!” usulku.
“Ah, dah basi!” tolaknya. “Gimana kalau yang kalah, bakalan jadi pembantu si pemenang dalam seminggu!” usulannya cukup ekstrim. Aku terdiam sejenak, mencoba memikirkannya matang-matang.
“Ya, boleh juga! Siapa takut!” sahutku kemudian. Setelah kupikir-pikir, tidak ada ruginya juga. Ya, hitung-hitung bisa lebih kenal dekat dengan dia.
“Oke, kita mulai!” Jessica memasang posisi siap, layaknya seorang pembalap sepeda. Aku menirunya.
“1, 2, 3……………….!”
Dan kamu pun mulai balapan. Aku mengayuh sepeda sekencangnya. Aku yakin akan menang, karena aku sudah biasa balapan sepeda dengan teman-temanku di kampung waktu SMA dulu.

bersambung

Iklan

Satu Tanggapan to “CERBUNG FIKSI: Salah Jalan (Part 2)”

  1. CERBUNG FIKSI: Salah Jalan (Part 3) « Hehemahita Says:

    […] Baca “Salah Jalan Part 1″ Baca “Salah Jalan Part 2″ […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: